Selasa, 13 Maret 2012

OPINI

Pahit Manis Batam 2011

OLEH: DJASARMEN PURBA, SH




Di bawah bayang-bayang krisis global dan hiruk pikuk perpolitikan nasional. Batam mengawali tahun 2011 dengan cukup baik setelah berhasil menyelenggarakan pemilihan kepala daerah langsung (Pilkada) dengan aman, tertib dan demokratis, sehingga menempatkan Ahmad Dahlan dan Rudi sebagai Wali Kota dan Wakil Wali Kota priode 2011-2016. Namun tahun ini juga adalah tahun penuh gejolak dan tantangan bagi kepemimpinan Ahmad Dahlan. Adalah sejumlah catatan pahit sepanjang tahun 2011, diantaranya, demontrasi buruh yang berakhir kerusuhan dalam pembahasan Upah Minimum Kota (UMK) 2012, kembali terjungkalnya kota Batam sebagai kota terkotor di Indonesia, serta target retribusi yang tak tercapai. 

Di samping kegetiran itu masih ada jedah senyum yang bisa diberikan menyusul diberikan rekor MURI bagi kuliner Gong-Gong Batam. Tahun 2011 tercoreng kerusuhan yang meledak pada awal Desember lalu. Demonstrasi ribuan buruh menuntut kenaikan UMK Batam yang pada mulanya berjalan damai, berakhir dengan bentrokan antara polisi dan buruh. Akibatnya, kantor Wali Kota Batam luluh-lantak, pos polisi dan kendaraan bermotor dibakar massa, sejumlah buruh mengalami luka-luka. 

Selama beberapa hari Batam mencekam, orang-orang enggan keluar rumah, investor asing ketakutan. Batam seperti kota mati. Kerugian yang diderita tidak kecil, baik materil maupun non materil. Tidak tahu seperti jumlahnya, namun yang jelas dikabarkan ada beberapa calon investor (dalam dan luar negeri) kemudian mempertimbangkan ulang membuka usaha di Batam. 

Kerusuhan yang terjadi telah memgkristalkan opini mereka bahwa Batam bukan tempat yang cukup kondusif untuk mengembangkan usaha. Kerusuhan ini sesungguhnya tidak perlu terjadi, andai saja Wali Kota Batam bersedia membuka ruang dialog yang lebih lebar antara dia dan para buruh. Karena terbukti setelah kerusuhan dan dialog dibangun kembali dengan difasilitasi oleh Gubernur Kepri, akhirnya tercapai kesepakatan antara buruh dan pengusaha mengenai besar UMK 2012 sebesar Rp1.402.000. 

Huru-hara yang menyertai penetapan UMK Batam 2012 hendaknya juga dapat dijadikan pertimbangan masalah pembahasan Ranperda Ketenagakerjaan, inisiatif DPRD Batam. UU No 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, masih menuai masalah untuk direvisi. Beberapa organisasi ketenagakerjaan menolak UU ini direvisi, karena mereka telah mempelajari draft revisi UU yang lebih memberatkan posisi tenaga kerja. 

Tidak kalah penting yang perlu dicatat pada kejadian-kejadian sepanjang tahun 2011 adalah kembali terjungkalnya kota Batam sebagai kota terkotor di Indonesia. Untuk kesekian kalinya Kota Batam mendapat predikat kota terkotor se-Indonesia. Kali pertama predikat itu disandang tahun 2005, namun dua tahun berselang berturut-turut (2007, 2008 dan 2009 ) secara mengejutkan Batam tiba-tiba mendapat piala Adipura, Supremasi tertinggi kota terbersih di Indonesia. Tahun 2007 Batam meraih Piala Adipura, sebagai supremasi kota besar terbersih ketiga di Indonesia, setelah Padang dan Pekanbaru. Tahun selanjutnya (2008) Batam kembali meraih Adipura. 

Prestasinya lebih kinclong lagi, naik ke predikat kota besar terbersih kedua di Indonesia setelah Pekanbaru di urutan pertama dan Kota Padang di urutan ketiga. Berikutnya, tahun 2009 Kota Batam berhasil menyabet Piala Adipura lagi sebagai kota besar terbersih ketiga. Namun, setahun kemudian semua prestasi tiga tahun itu tiba-tiba sirna begitu saja, tak berbekas, terbalik 180 derajat. 

Dua tahun kemudian berturutturut (2010 dan 2011) Batam kembali ke wajah aslinya menjadi kota terkotor di Indonesia. Kekacauan ini tidak lepas dari dihentikannya ditengah jalan kontrak kerjasama pengelolaan sampah antara Pemko Batam dengan PT SSS selaku perusahaan tunggal pemenang tender swastanisasi sampah. Meskipun Pemko Batam kemudian menunjuk PT RGA sebagai pengganti, tapi tak juga mampu menyelesaikan masalah, sampah masih saja menumpuk tak terangkut dimanamana. 

Berlarut-larutnya masalah tersebut membuat pendapatan dari retribusi sampah yang dipungut Dinas Kebersihan dan Pertamanan,  hingga September 2011 hanya Rp8,8 miliar atau 35,57 persen dari target APBD sebesar Rp25 miliar. Lebih jauh, tidak tercapai penerimaan dari retribusi sampah secara kumulatif berimplikasi pada merosotnya Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Batam, hingga September lalu PAD Batam baru menembus angka Rp190,4 miliar persen. Dari angka itu Rp 164,2 miliar diantaranya berasal dari pajak daerah. Sebagai catatan target pajak daerah tahun 2011 ditetapkan sebesar Rp 283,8 miliar. 

Tidak tercapainya target PAD membuat Pemkot Batam masih belum mampu membiayai belanja daerah secara mandiri pada tahun depan, bahkan ketergantungan terhadap bantuan dana dari pusat diperkirakan semakin besar dalam struktur anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) 2012. Seperti ada informasi yang didengar berhubung anggaran tidak mencukupi maka bantuan insentif guruguru akan dihapus, jika hal ini terjadi menurut hemat penulis kurang bijak, sebab secara manusiawi akan mengurangi kinerja guru-guru yang tadinya menerima tiba-tiba hilang sama sekali. Catatan kelam lainnya yang muncul setiap tahun dan yang menjadi langganan tahunan : masalah banjir, kurangnya daya tampung sekolah, pembangunan infrastruktur. 

Dengan demikian, maka porsi pemasukan dari pusat antara lain Dana Alokasi Khusus (DAK) dan Dana Alokasi Umum (DAU) masih akan sangat dominan dalam APBD Batam. Namun demikian masih ada beberapa sektor tertentu yang diharapkan hingga tutup tahun 2011 mampu mendongkrak PAD Batam, salah satunya sector pariwisata. Meskipun ada data resminya, diproyeksi penerimaan dari sektor ini dapat mencapai 30 persen, sehingga secara kumulatif PAD Batam bisa mencapai lebih dari 82% dari target. 

Optimisme naiknya penerimaan dari sektor pariwisata didasari bertambahnya jumlah kunjungan wisman yang berkunjung ke kota Batam, hingga Oktober lalu jumlah wisma ke Batam mencapai 95.250 orang atau naik 23,41 persen dari bulan oktober 2010 yang hanya berjumlah 77.183 orang. Kenaikan jumlah kunjungan wisman ini tidak lepas dari program-program pariwisata yang disusun Pemko. Salah satunya yang cukup ramai menarik minat wisman adalah Batam Seafood Festival. 

Kegiatan tersebut memecahkan rekor MURI (Museum Rekor Indonesia) dengan jumlah pemasak gonggong terbanyak yakni 1.000 orang. Batam Seafood Festival merupakan penegasan bahwa Batam sebagai surga kuliner seafood di Indonesia. Dan tentu ini akan menjadi daya tarik tersendiri bagi wisman yang berkunjung ke Batam. 

Prestasi Gong-Gong dapat MURI merupakan catatan tersendiri diantara berbagai kisah kelam sepanjang tahun 2011 yang menyelimuti Batam. Beragam cerita pahit yang sesekali diselangi catatan manis sepanjang tahun 2011 tidak lantas membuat kita menjadi lemah dan tak percaya diri menatap tahun depan. Sebaliknya justru membuat Batam lebih bisa tegak menantang: Tahun depan harus lebih baik dari tahun sebelumnya Batam Pos Sabtu 24 Desember 2011(halaman 4).****



Tidak ada komentar:

Posting Komentar